Kosmopolitan Islam Berkemajuan dan Muhammadiyah Society 5.0

oleh : IPMawan Nurul Falahi
Konsep Kosmopolitan Islam Berkemajuan dan Muhammadiyah Society 5.0 merupakan sebuah diskursus yang relevan dan visioner. Konsep ini merupakan titik temu antara nilai keberagamaan, wawasan global yang insklusif, dan penguasaan teknologi mutakhir yang berpusat pada manusia.
Definisi
Risalah Islam Berkemajuan adalah sebuah paradigma keberagamaan yang menolak stagnan (taqlid), mengedepankan pembaharuan (tajdid). Risalah islam Berkemajuan ini di kembangakan pada mukhtamar ke 48 di Surakarta.
Kosmopolitan berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, “Cosmos” yang berarti alam semesta, dan “Polites” yang berarti warga negara. Oleh karena itu Kosmopolitan adalah warga dunia yang mengakui bahwa seluruh dunia ini sebagai tanah airnya, jadi bukan hanya satu negara. Hal ini sama seperti penjelasan Bapak Hamam Sanadi, P. Hd di kegiatan Pra TM III yang di laksanakan pada tanggal 7 Mei 2026 melalui zoom.
Beliau menjelaskan bahwa Kosmopolitan ini merupakan sebuah ideologi yang memandang manusia sebagai satu komunitas global yang sesuai dengan konsep Islam rahmatan lil alamin. Society 5.0 merupakan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan Tegnologi (AI,Iot) Setelah kita tahu definisinya tentu kita juga harus tahu apa tantanganya dan apa dampaknya bagi pelajar.
Tantangan
Tantangan yang pertama terletak pada risiko dehumanisasi digital, hal ini berkaitan dengan dominasi algoritma dan kecerdasan buatan yang berpotensi menggerus nilai-nilai spiritual serta empati yang menjadi inti dari misi kemanusiaan.
Selanjutnya Arus informasi yang masif juga menciptakan ancaman polarisasi dan hoaks dalam “gelembung filter” media sosial, yang menuntut ketajaman nalar kritis agar inklusivitas tidak terjebak dalam fanatisme baru atau pendangkalan pemahaman agama yang instan.
Selain itu, ketimpangan akses teknologi menjadi hambatan serius dalam mewujudkan keadilan sosial secara global, sementara tuntutan untuk beradaptasi dengan kecepatan disrupsi sering kali memicu krisis identitas antara ambisi menjadi warga dunia yang modern dengan keharusan menjaga akar nilai keislaman yang autentik.
Dampak
Dampak positifnya terletak pada terciptanya generasi yang memiliki daya saing global tinggi tanpa kehilangan akar nilai-nilai spiritualnya, di mana integrasi teknologi Society 5.0 dengan nalar Islam Berkemajuan memungkinkan amal usaha dan dakwah menjadi lebih efisien, transparan, dan berdampak luas.
Hal ini melahirkan muslim kosmopolitan yang berperan sebagai jembatan perdamaian dunia, mampu mengarahkan kecerdasan buatan untuk misi kemanusiaan, serta memposisikan Islam sebagai solusi atas krisis etika di ruang digital. Dengan demikian, agama bertransformasi menjadi motor penggerak peradaban yang inklusif, membekali pelajar dengan kemampuan problem solving berbasis data yang tetap berpijak pada prinsip rahmatan lil ‘alamin.
Dampak negatif ini hampir sama seperti di jelaskan pada tantangan yaitu risiko terjadinya alienasi budaya atau ketercerabutan identitas jika wawasan kosmopolitan tidak diimbangi dengan pendalaman ideologi yang kokoh, sehingga individu rentan hanyut dalam arus sekularisme global yang dangkal.
Selain itu, ketergantungan berlebihan pada algoritma dan teknologi di era Society 5.0 dapat memicu dehumanisasi, di mana empati sosial mulai terkikis oleh efisiensi mesin dan memperlebar jurang ketimpangan bagi mereka yang tidak memiliki akses literasi digital.
Arus informasi yang terlalu cepat juga berisiko melahirkan pemahaman agama yang instan dan bersifat permukaan, yang jika tidak difilter dengan nalar kritis, justru dapat memperparah polarisasi pemikiran dan gesekan sosial di ruang publik virtual.




