Berita

Prof. Alimatul Qibtiyah Soroti Keunikan Muhammadiyah dalam Kuliah Umum di PDM Pemalang

PEMALANG – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang menyelenggarakan acara istimewa dengan menghadirkan Prof. Dr. Hj. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Hum., Ph.D. sebagai pembicara Kuliah Umum. Acara yang merupakan bagian dari pembukaan Kuliah Tarjih ini berlangsung pada Sabtu (6/12) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Pemalang. Kuliah Umum tersebut dihadiri oleh PDM, PDA, PCM, serta seluruh peserta tarjih.​

​Prof. Alimatul Qibtiyah, yang dikenal sebagai Komisioner Komnas Perempuan periode 2020–2024 dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat ini menjabat sebagai anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.​

Dalam paparannya, Prof. Alimatul menyoroti keunikan dan kekuatan Muhammadiyah berupa penggunaan pendekatan modern dalam pemahaman keagamaan, serta memanfaatkan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan amal sosial sebagai sarana dakwah.​

Selain itu Muhammdiyah juga dikenal senagai organisai yang mengedepankan demokrasi dalam pengambilan keputusan organisasi dan menjadi organisasi yang sangat progresif dalam membahas isu-isu kontemporer.

​Karakter Islam Berkemajuan dan Pesan KH. Dahlan​

Prof. Alimatul juga menguraikan 17 Karakter Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, yang mencakup pasangan sifat kontras seperti Ningrat-merakyat, Puritan-inklusif, Kritis-konstruktif, dan Kaya-bersahaja. Selain itu, beliau menyampaikan Enam Pesan Kyai Dahlan yang penting dipegang teguh kader, yaitu:​ Tidak menduakan Muhammadiyah.​ Tidak dendam, marah, dan sakit hati jika dikritik.​ Tidak sombong dan berbesar hati jika mendapat pujian.​ Rendah hati, ikhlas, dan berkorban.​Teguh dan bersungguh-sungguh.

​Sejarah dan Keunikan Majelis Tarjih

​Kuliah umum ini juga membahas sejarah Majelis Tarjih. Majelis Tarjih didirikan pada tahun 1927 atas usul Mas Mansur, didorong oleh kebutuhan internal untuk memodernkan pemahaman terhadap ajaran agama dan faktor eksternal berupa munculnya perbedaan pendapat dalam cabang ilmu agama.​

Keunikan Majelis Tarjih diantaranya adalah dengan mengombinasikan tradiai keilmuan Timur dan barat dalam menyusun produk tarjih. Momentum penting lainnya adalah munculnya ulama perempuan di Majelis Tarjih sejak tahun 1995, yang mendorong lahirnya ulama-ulama perempuan di Muhammadiyah.​

Perspektif tarjih yang dianut meliputi wawasan paham agama, tajdid, toleransi, keterbukaan, dan wasatiyah (moderasi), serta mengawinkan tradisi dan inovasi, iman dan toleransi.​ Adapun pendekatan yang digunakan dalam memahami teks agama meliputi tiga hal, yaitu ​Bayani (teks keagamaan, asbabun nuzul, dan asbabul wurud), Burhani (Melalui data hasil kajian dari berbagai disiplin ilmu) serta Irfani dengan menggunakan hati nurani. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button