BODEH SEDANG MENOLEH

Oleh : Gus Zuhron (Sekretaris MPKSDI PWM Jawa Tengah)
Tepat pukul 21.00 WIB tiba di sebuah hotel red doorz Comal Pemalang. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam dari Magelang. Selalu ada aura menyenangkan dan energi yang hidup ketika mendapatkan tugas untuk bertemu dengan jama’ah. Apalagi kumpulan jama’ah itu adalah masyarakat akar rumput yang bermuhammadiyahnya tanpa tapi.
Pagi hari pukul 07.00 WIB sekitar 1500 jama’ah telah menunggu di pendopo dan pelataran kelurahan. Gurat wajah penuh antusias tampak dari antrian agak panjang jama’ah yang memadati area itu untuk mengikuti agenda pengajian ahad pagi. Kabarnya pengajian itu sudah berjalan tahunan. Menggabungkan jama’ah Muhammadiyah wilayah Bodeh, Comal dan sekitarnya. Sambutan PCM dan sambutan Ketua PDM Pemalang memberikan wawasan menarik sekaligus memperlihatkan daya juang yang tidak biasa. Andaikan semua pelaku gerakan punya energi semacam itu, tidak perlu ada kekhawatiran suatu saat Muhammadiyah akan oleng.
Bodeh adalah sekian antitesa dari anggapan sebagian orang bahwa Muhammadiyah hanya mampu berkembang di wilayah perkotaan. Kita bisa menyebutkan beberapa daerah yang jauh dari denyut nadi kota-kota besar namun sang surya dapat bersinar di tempat itu. Kalibening (Banjarnegara), Blimbingrejo (Jepara), Wanayasa (Banjarnegara), Bumiayu (Brebes), Gombong (Kebumen), Bonjor (Temanggung), Sirampok (Brebes) Bodeh (Pemalang) dan seterusnya. Tempat-tempat itu selalu dihadiri ribuan jama’ah Muhammadiyah setiap kali ada acara kegiatan persyarikatan.
Tentu ada sejarah panjang mengapa Muhammadiyah bisa sampai ke sudut-sudut bumi semacam itu. Ada perjuangan dan komitmen yang kuat untuk membumikan sang surya di wilayah penuh tantangan. Para pejuang masa lalu pastilah tipologi manusia yang jauh dari hiruk-pikuk media. Tidak ada kamus viral dalam benak mereka ketika menebarkan dakwah persyarikatan. Misi utamanya adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Tempat-tempat legendaris semacam itu selalu menyisakan cerita luar biasa dari proses perjuangan yang mereka lakukan. Nilai-nilai luhur biasanya terhujam dalam legasi dakwah yang bisa dirasakan sampai saat ini. Sayangnya tidak semua nilai luhur itu terwariskan dengan baik pada generasi setelahnya. Akibatnya banyak para penerus perjuangan tidak memiliki value yang setara dengan para assabiqunal awwalun. Padahal itu bagian penting yang harus terus diwariskan. Bukan untuk membanggakan masa lalu, atau terjebak pada romantisme zaman perjuangan, tetapi lebih pada keberlanjutan nilai agar terus terjaga untuk kontinuitas langkah gerak ke depan.
Bodeh tampaknya salah satu yang terus berusaha mewariskan keabadian nilai perjuangan. Semangat mereka perlu ditebarkan ke sudut-sudut lain agar geliat dakwah tidak surut. Tentu banyak kelemahan dan kekurangan, hal itu lumrah terjadi dalam sebuah entitas perjuangan. Ketidaksempurnaan bukan penghalang untuk mengkerdilkan dan mengeringkan langkah gerak dakwah. Justru menjadi catatan penting upaya penyempurnaan gerakan Muhammadiyah dalam nafas spirit lokal. Bodeh sedang menoleh, menatap masa depan, mengkristalkan semangat dan terus mengayuh energi besar agar sang surya akan terus bersinar melintasi zaman.
Rumah Sanggrahan, Kamis, 24 Juli 2025 pukul 04.28 WIB ….menunggu waktu subuh tiba




