Tak Sekadar Emansipasi, ‘Aisyiyah Dorong Perempuan Kuasai Pendidikan dan Ruang Digital

YOGYAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan pentingnya penguatan peran perempuan Indonesia dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman, khususnya di era digital, serta mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang pendidikan.
Salmah menyampaikan bahwa Hari Kartini merupakan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali kontribusi perempuan dalam sejarah dan pembangunan bangsa. Tokoh-tokoh perempuan seperti Nyai Siti Walidah, Laksamana Malahayati, H.R. Rasuna Said, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan Martha Christina Tiahahu telah menunjukkan kiprah strategis perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Selain para pahlawan nasional, banyak perempuan Indonesia yang turut berkontribusi nyata di tengah masyarakat. Dalam konteks ‘Aisyiyah, hal ini tercermin dari kiprah Siti Umniyah yang pada 1924 merintis Taman Kanak-Kanak sebagai embrio TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, serta Siti Baroroh Baried yang dikenal sebagai guru besar perempuan pertama di Indonesia.
Menurut Salmah, perempuan memiliki kapasitas dan posisi strategis di berbagai bidang kehidupan. Hal tersebut perlu ditopang dengan terbukanya akses pendidikan yang merata bagi perempuan di mana pun berada.
Ia menilai meningkatnya partisipasi perempuan pada jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi merupakan capaian yang patut diapresiasi. Kondisi ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi perempuan, yang juga diperkuat oleh berbagai kebijakan pemerintah, seperti penyediaan beasiswa dan perluasan program wajib belajar.
Lebih lanjut, Salmah menegaskan bahwa peningkatan akses dan kualitas pendidikan perempuan tidak hanya berdampak pada peran di ruang publik, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam kehidupan keluarga. Dengan pendidikan yang setara, perempuan dapat berpartisipasi aktif sesuai dengan kompetensi dan keahlian yang dimiliki.
Ia juga menekankan bahwa paradigma yang membatasi perempuan hanya pada ranah domestik harus dihapuskan. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang luas untuk berkarya, baik pada masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam tradisi Islam, seperti Siti Khadijah yang dikenal sebagai saudagar sukses dan Siti Aisyah yang memiliki keluasan ilmu.
“Fakta ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkarya, berdaya, dan berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan,” ujarnya pada Selasa (21/4).
Dalam konteks kekinian, perempuan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama di ruang digital, seperti kesenjangan akses, beban ganda, serta berbagai bentuk kekerasan berbasis gender. Oleh karena itu, PP ‘Aisyiyah mendorong penguatan kapasitas perempuan melalui peningkatan literasi, pemanfaatan teknologi secara produktif, serta penguatan nilai-nilai keadaban dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah telah menunjukkan komitmen kuat terhadap pendidikan perempuan. Saat ini, gerakan pendidikan ‘Aisyiyah terus berkembang, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.
Sebagai penutup, Salmah mengajak seluruh elemen perempuan untuk menjadikan semangat Kartini sebagai gerakan nyata.
“Semangat Kartini harus kita hidupkan, bukan hanya sebagai peringatan, tetapi sebagai gerakan untuk menghadirkan perempuan yang berdaya, berkemajuan, dan berkontribusi bagi peradaban bangsa,” pungkasnya.




