Berita

Sambut Ramadhan 1447 H, PDM Pemalang Hadirkan Prof. Alimatul Qibtiyah​

PEMALANG – Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pemalang menggelar Pengajian Jelang Ramadhan di Gedung Serbaguna Pemalang. Acara ini menghadirkan Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengembangan PP Aisyiyah, Prof. Alimatul Qibtiyah, dan diikuti oleh ribuan warga Muhammadiyah se-Kabupaten Pemalang. (8/2)

Kegiatan diawali dengan prosesi pembacaan ikrar kelulusan 42 peserta Kuliah Tarjih PDM Pemalang Angkatan I. Para lulusan tersebut merupakan perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Aisyiyah (PCA) yang telah menuntaskan pendidikan selama dua bulan dengan sembilan kali pertemuan.

​Ketua PDM Pemalang, Sapto Suhendro, dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras panitia dari unsur Organisasi Otonom (Ortom) tingkat daerah. Ia menekankan bahwa pengajian ini adalah momentum silaturahmi sekaligus ajakan untuk meningkatkan kepedulian sosial.​

“Saya berpesan agar seluruh pimpinan meningkatkan keintiman dan soliditas antar-pengurus di semua level kepemimpinan,” ujar Sapto.​

Filosofi ‘Reset dan Recharge’ Hati​

Dalam ceramahnya, Prof. Alimatul Qibtiyah mengajak warga Muhammadiyah untuk beragama secara dewasa dengan menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Ia mengibaratkan persiapan Ramadhan seperti merawat gawai (smartphone).

​”Ramadhan adalah momentum tajdid (pembaruan) spiritual. Agar puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, kita perlu melakukan ‘reset’ hati dari penyakit iri dan dengki, serta ‘recharge’ iman agar penuh dengan amal saleh,” terang Prof. Alimatul.

​Beliau juga mengingatkan bahwa kesalehan tidak boleh berhenti di ranah pribadi, melainkan harus meluas menjadi kesalehan sosial yang manfaatnya dirasakan di luar masjid.​

Kesetaraan Gender dan Kesejahteraan Lansia​

Selain aspek spiritual, Prof. Alimatul menyoroti pentingnya pengarusutamaan kesetaraan gender dalam dakwah Muhammadiyah. Merujuk pada dokumen Tarjih “Adabul Mar’ah fil Islam”, ia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan setara dan berharap akan lebih banyak muncul penceramah perempuan di masa depan.​

Menutup pengajian, ia memberikan perhatian khusus pada isu kesejahteraan lansia. Menurutnya, kesejahteraan lansia sangat bergantung pada dukungan sistem dan penerimaan (acceptance) terhadap kondisi hidup.​

“Lansia rentan merasa kesepian dan tidak berdaya. Pendamping lansia perlu memvalidasi perasaan mereka agar para lansia tetap merasa berharga dan memiliki integritas di usia senja,” pungkasnya. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button